Jaman dahulu kala, hiduplah seorang kakek dan nenek. Mereka membesarkan seekor kuda dari semenjak kuda itu masih kecil. Mencari rumput, mengembala, merawatnya ia lakukan tiap hari. Suatu hari kuda milik satu-satunya itu hilang entah kemana masuk dalam hutan belantara. Di ruang sabana pun tak terlihat.

Dengan keadaan seperti ini, para tetangganya pun berkomentar sinis.

“Betapa malangnya nasib kakek nenek tua itu.”

Sehari dua hari berlalu, tidak ada tanda-tanda keberadaan si kuda. Penduduk sekampung udah mencari  seluruh penjuru desa belum juga ketemu. Nah, ntah mimpi apa di malam ke tujuhnya, tiba-tiba kuda itu kembali ke rumah sang kakek nenek. Dan tak disangka, kuda yang selama ini dirawat dengan baik ternyata kuda “pemimpin” stalion. Kuda itu kembali ke pemiliknya dengan membawa kawanan.

Para tetangga berkomentar. “Betapa beruntungnya kakek nenek itu”.

Memperoleh kuda-kuda liar, pemuda anak semata wayang kakek nenek tadi berusaha menjinakkan kuda-kuda tadi. Sayang, ditengah usahanya dia terjatuh dan mengalami patah tulang di kakinya.

Para tetangga berkomentar. “Betapa malangnya keluarga itu”.

Hari demi hari berganti. Sementara di negara bagian lain terjadi peperangan. Banyak prajurit berguguran. Memaksa pemerintah setempat melakukan rekrutmen prajurit baru. Dan pemuda sehat di seluruh penjuru negara diwajibkan untuk menjadi prajurit perang. Banyak pemuda yang mengeluh menjadi prajurit. Meninggalkan keluarga dan pergi berperang melawan musuh. Pemuda anak sang kakek nenek tidak diperbolehkan menjadi prajurit karena patah kaki.

Para tetangga berkomentar lagi. “Wah betapa beruntung nasib pemuda itu, tidak dipaksa menjadi prajurit”.

Hari-hari terlewati. Pemuda itu hanya di rumah. Tidak ada teman-teman sepermainannya lagi. Sesekali ia bermain dengan kuda-kudanya saja. Warga melihatnya seperti pemuda yang kesepian. Bermain sendiri tanpa teman seumurannya.

Para tetangga juga berkomentar lagi. “Malang sekali anak itu. Sepi sendiri, bermain sendiri”.

Seiring berjalannya waktu, kakinya mulai bisa berjalan normal. Berlari bersendau gurau dengan kuda-kudanya. Dengan gagahnya sang pemuda berkuda keliling desa.

Para tetangga berkomentar yang ke sekian kalinya. “Benar-benar beruntung pemuda ini”.

Ternyata para gadis desa memperebutkan pemuda tadi. Betapa tidak, sekarang tidak ada pemuda yang gagah di desa itu setelah semua pemuda direkrut pemerintah menjadi prajurit dan di bawa ke daerah konflik.

Kehidupan ini berputar seperti roda kehidupan. Kadang di atas, dan kadang pula di bawah. Bersyukur adalah hal yang wajib dirasakan dan dilakukan. Tidak melulu memikirkan apa yang belum didapatkan, melainkan sesekali merasa untung mendapatkan apa yang sudah dimiliki.

Bagi yang sedang merasa menderita atau dalam masalah. Yakinlah badai akan segera berlalu. Bahkan cobalah menikmati. It is not about waiting the storm passed. It is about dancing in the rain. Bagi yang sedang merasa senang, berbahagialah untuk sekedarnya. Toh, apa yang didapatkan juga tidak akan abadi. Jangan-jangan Tuhan sedang menguji kita dengan kesenangan, sementara orang lain diuji dengan kesengsaraan. Berbagi kepada sesama bukanlah tindakan yang salah.

Tetap sehat, tetap semangat! 😀

Iklan