Seakan tak terasa dan berlalu terlalu cepat, akhirnya 6 semester telah terlewati. Apalagi bila melupakan prosesnya: tugas-tugasnya, ujian-ujiannya, praktik-praktiknya. Terasa baru kemarin berselancar di internet, daftar online lalu bayar biaya pendaftaran dan seterusnya, kini kami berhasil wisuda dengan elegan. Semester tiap semester terlalui dengan cukup asyik. Walau pun tiap jalan yang terlewati tidak selamanya mulus, namun justru yang berliku dan berbatulah yang membuat masa lalu menjadi memori tersendiri.

Teringat dulu selepas lulus masa SMA, saya berusaha mendaftar dimana-mana. Mencoba SNMPTN undangan dan tulis, mencoba tes AMG, STTD, Akpol, Akmil dan tentu saja D3K PLN. Dari semua yang dicoba, ternyata ada tiga yang tembus sampai pengumuman akhir. Dan karena merasa lebih ditakdirkan dan karena lain hal, akhirnya alhamdulillah terpilihlah program D3K PLN Polines. Sebuah program pendidikan jenjang ahli madya kerjasama PT PLN dan institusi pendidikan Polines Semarang. Kebetulan hanya ada dua konsentrasi program studi (prodi) yang ditawarkan, yaitu prodi teknik listrik (teknik elektro) dan prodi teknik konversi energi (teknik mesin). Saya melamar pada prodi teknik listriknya, karena lebih tertarik tentang elektro dan juga saran orang tua.

Proses seleksi masuk program D3K PLN tahun 2011 dulu, ada beberapa tahapan. Tahapan yang pertama ada seleksi administrasi, lalu tes akademik, tes psikotes, diskusi kelompok, tes kesehatan, dan tes wawancara. Proses ini sama dengan proses rekrutmen pegawai PT PLN. Hal yang membedakan adalah program D3K ini proses perekrutan insan PLN sebelum lulus studi, sedangkan rekrutmen konvensional yang biasanya adalah setelah lulus studi. Jadi ada semacam ada keterikatan, setelah lulus kuliah bisa langsung mengikuti prajabatan insan PT PLN. Bisa jadi ini dianggap menjadi semacam suatu sekolah kedinasan namun biaya kuliah dibayar swadaya. Mengingat jumlah penduduk yang semakin melejit dan tidak dibarengi kesebandingan jumlah pekerjaan, tentu para orang tua menilai D3K adalah salah satu solusi yang baik untuk anaknya. Dimana setelah wisuda, sudah ada perusahaan BUMN yang siap menyerap sumber daya anaknya. Faktor inilah yang diperkirakan menjadi penyebab semakin meningkatnya jumlah peminat atau pendaftar D3K PLN. Perlu diketahui bahwa program D3K PLN tidak hanya bekerjasama dengan Polines, namun juga dengan beberapa institusi pendidikan lain di Indonesia. Mereka setidaknya yaitu D3 Undip, D3 ITS, Polmed Medan, Polinema Malang, PNP Padang, PNUP Ujung Pandang, Politeknik Bali, dan Polsri Palembang.

Lagi-lagi kenangan masa lalu mengingatkan. Dulu ketika akan tes kesehatan aku berangkat berdua bersama kawan baikku. Tahap kesehatan ini memang tersisa dua orang pada kawan sepermainan. Padahal dulu ada beberapa kawan lain yang mengikuti tes akademik dan psikotes. Sayang mereka tidak lolos. Sore itu kami berencana menaikki kereta Kaligung, namun nahas walaupun kami sudah berlari tetap saja ketinggalan kereta. Akhirnya kami memutuskan berjalan menuju terminal saat petang itu. Bus ekonomi terpaksa kami naiki bersama puluhan penumpang lain. Bisa ditebak, asap rokok dari penumpang lain dan bus yang sering berhenti itulahsisi negatif bus ekonomi. Kesabaran yang akhirnya mengantarkan kami ke simpang Kalibanteng, Semarang. Sampai disana kira-kira jam 9 malam. Kami berjalan menyusuri jalan Pamularsih. Masih segar dalam ingatan, dulu selepas turun dari bus ekonomi, kami menyeberang dari depan pos Polisi Militer Kali banteng ke Jalan samping museum ronggo warsito. Malam semakin larut. Kami berjalan tanpa tujuan, yang pasti besok kami harus ke PLN Distribusi Jateng DIY di Jatingaleh. Kami berdua sempat makan di warung pinggir jalan lalu melanjutkan perjalanan melewati jembatan dan lampu merah jalan Pamularsih. Berangkat hanya berangkat, dan mungkin bermodal nekat tanpa rencana yang matang. Saat di depan pom bensin kami sempat berniat bermalam di sana, namun saat itu merasa agak kurang sreg sehingga kami mengurungkan niat. Diperjalanan kami melihat kubah masjid, sontak ide muncul. Bagaimana kalau bermalam di sana saja. Dengan melihat sang kubah, akhirnya kami menemukan masjid itu. Dan ternyata di dalam asrama polisi Kalisari. Sempat ragu namun tak ada pilihan lain, akhirnya kami bermalam di situ. Ternyata ada orang juga yang sedang istirahat di sana.

Singkat cerita, kami bermalam lagi yang kedua kalinya di situ setelah tadi siangnya kami ke kantor PLN dan menerima pengarahan tentang tes kesehatan untuk besok harinya. Sayangnya, saat pagi di hari tes, barang-barang kami sudah raib entah kemana. Pakaian, kartu peserta tes, dan “dunia” kami entah hilang kemana. Setelah membuat laporan di Polrestabes, kami langsung capcus ke tempat tes kesehatan dan langsung menjelaskan semuanya. Alhamdulillah diperbolehkan mengikuti tes. Beberapa minggu telah berlalu, dan pengumuman sudah keluar. Alhamdulillah aku lolos tes kesehatan dan berhak ke tahap selanjutnya. Namun sayang, kawan seperjuanganku tidak lolos. Singkat cerita, beberapa bulan berlalu, Ujian Nasional dan SNMPTN juga terlampaui. Aku diterima dan memutuskan mengambil D3K PLN-Polines, dan kawan baik ku ini diterima di S-1 Teknik Mesin Undip 2011. Karena tempat kuliah yang berdekatan, kami bersama beberapa kawan lain mengontrak satu rumah. Dan sampai tiga tahun masa studiku, kami selalu bersama. Yeh, betapa perjuangan! Dia juga datang di acara wisudaku bersama kawan kami lain sesama teknik mesin. Terima kasih kawan, telah datang di hari bahagiaku. Aku masih ingat Coklatnya! 😀  Aku tunggu wisuda studimu. Aku harap aku bisa membalas datang di hari bahagiamu itu, “Bendol” dan “Togog”!. Semoga!

Akulah sang resistor akhir keluarga. Akulah objek dimana bapak dan ibu berharap. Berharap agar segera menjadi orang; berharap agar segera menjadi pribadi yang mandiri. Tidak lagi bergantung pada orang tua dalam berbagai hal, termasuk di dalamnya hal finansial dan mengurus diri. Harapan bapak dan ibu, saya bertransformasi dari elemen pasif resistor menjadi elemen aktif. Saya tidak hanya menjadi sebuah beban melulu, namun mampu berubah menjadi pribadi yang mandiri dan bermanfaat bagi elemen lain.

Masih teringat betul di memori “Nunu”, sekolah TK Tunas Rimba, SDN 16 Mulyoharjo, SMPN 4 Pemalang, SMAN 1 Pemalang, dan kini lulus Politeknik Negeri Semarang. Nunu ingat di tiap masa, dimana bapak ibu mendidik Nunu dari waktu ke waktu. Mohon maaf, dulu pernah menjadi anak nakal, pengotor rumah, perepot dan seterusnya. Mohon maaf juga bila Nunu sering membangkang. Tapi maksud Nunu cuma ingin menunjukkan kalo apa yang Nunu pilih juga benar. Nunu pengen belajar mengambil keputusan dan membuat jalan Nunu sendiri.

Alhamdulillah Bapak, alhamdulillah Ibu. Putra ragilmu ini kini sudah berhasil merampungkan studi program diploma madya. Tentu semua berkat Allah SWT, dan semua usaha dan doa yang bapak ibu panjatkan. Kini, Nunu sedang menunggu waktu samapta prajab PT PLN angkatan  43 di Batujajar, Kopasus. Semoga bapak dan ibu tidak khawatir yang berlebih. Setelah itu ada proses pengenalan perusahaan, dan pembidangan. Lalu menyusul ada OJT -On the Job Training- dan segera setelahnya penempatan. Kurang lebih total waktunya 7-8 bulan sampai di 2015 nanti. Nunu yakin, bapak dan ibu pasti selalu mendoakan apa yang terbaik untuk anak ragilmu ini. Nunu juga berharap baik proses prajab, proses penempatan dan seterusnya, Nunu akan mendapatkan yang terbaik. Diberi Allah SWT kemampuan untuk bersyukur dan berlapang dada menerima apapun nikmat dan cobaan dari Allah. Nunu juga berharap, bapak ibu mau menyelipkan doa, semoga jodoh Nunu adalah seorang wanita yang baik, lagi solekhah. Selain itu, semoga impian Nunu memberangkatkan haji dan atau umroh bapak ibu segera menjadi kenyataan. (aamiin). Sungguh kasih bapak dan ibu itu banyak tiada tara, tak hingga sepanjang masa. Tentu Nunu gak bisa membalas semuanya, karena terlalu banyaknya. Nunu mungkin suma bisa membalas dengan cara menjadi  anak yang sholeh dan tentu mendoakan bapak dan ibu, semoga bahagia di dunia maupun di akhirat. Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghiran. Ya Allah, ampunillah dosa bapak dan ibuku, serta sayangilah kedua orang tuaku sebagaimana mereka menyayangiku saat aku masih kecil. (aamiin)

Pepatah mengatakan, lihatlah ke bawah untuk bersyukur,dan lihatlah ke atas untuk bermimpi. Berusahalah untuk tetap bersyukur atas apa-apa yang kita telah peroleh dan rasakan. Bukankah masih banyak orang di luar sana yang tidak lebih beruntung daripada kita (?). Tetaplah mengejar impian, selalu berusaha mewujudkannya. Terutama impian untuk selalu bermanfaat dan semangat untuk berkontribusi demi peradaban yang lebih baik. Kesemuanya tidak lain dan tidak bukan hanya untuk mendapat Ridlo sang Ilahi, Tuhan semesta alam. Man jadda wa jada ! Buat lah masa lalu yang cemerlang!

Iklan