Saat menjalani hidup terkadang kita terlalu men-simulasikan diri dalam suatu angan. Terkurung terjebak dalam kata “kalau”. Bagaimana kalau begini, bagaimana kalau begitu*. Mencemaskan atau boleh jadi terlalu “ambition of futuristik-problem solving”. Belum dijalani udah kebanyakan pemikiran. Mungkin maksud hati pengen punya bekal antisipasi.

Jadi kalau ada apa-apa di masa mendatang kita udah punya solusinya. Iya, gue setuju. Gue juga berpikiran seperti itu, tipe antisipator. Tapi belakangan ini, gue mulai nyadar. Antisipasi yang terlalu “bagaimana nanti kalo” itu gak bagus. Gimana enggak, ini kaya too much thinking about the future that has possibility to un-happen. (Terlalu memikirkan masa depan yang belum tentu terjadi)

Ini seperti mencemaskan jalan di ujung sana yang bagaimana kalo di ujung ada lubang, ada jurang atau ada waria** yang siap meluk elo erat-erat. Hal yang perlu diset dalam pikiran adalah “Lakukan/jalani dulu, toh nanti ada halangan ya dicari solusi cerdiknya saat itu.”. Lompat bila ada lubang, rapling kalo ada jurang, lari atau ngikut ngondek deh buat kamuflase sesama waria. HAHA. Dan, bisa jadi jalan di ujung sana itu lebih lebar dari yang kita lihat atau kita pikirkan.

Sumber: Dokumen pribadi saat perjalanan ke Goa Pindul, Gunung Kidul. "Rute berkat arahan Sygic, The GPS Navigator"

Sumber: Dokumen pribadi saat perjalanan ke Goa Pindul, Gunung Kidul. “Rute berkat arahan Sygic, The GPS Navigator”

Well, The point is don’t waste your time thinking how is future. Just plan, act, and have a joy of a life journey. Keep moving forward, because thousand miles journey begin with single step.

*Nasihat khusus dari bapak Ahmad J.F.
**disclaimer:
Tidak ada maksud untuk mendiskreditkan pihak2 tertentu.

Iklan