Lama-kelamaan mungkin kamus besar bahasa Indonesia akan ketambahan satu kata lagi, yaitu “Fesbuk”. Sebuah kata benda yang diasosiasikan dengan situs pertemanan di dunia maya. Kata turunannya boleh jadi “berfesbuk”, “memfesbuk”, “terfesbukkan”, “difesbukkan”.

Ibu: “Nak, sedang apa? sudah belajar belum?”
Anak: “Aku sedang berfesbuk, Mah. Memfesbukkan foto yang tadi siang kita ambil. Oh iya Mah, videonya perlu difesbukkan juga, tidak?”

Bermain fesbuk memang mengasyikkan, berinteraksi dengan akun teman atau kenalan kita. Saling me-like, saling berkomentar, saling ber-chat dan seterusnya.
Bagi sebagian orang, nge-fesbuk / fesbukkan bisa dijadikan sarana pengisi waktu luang.

Sebenarnya, aku heran sama akun fesbuk yang dinamakan orang2 berprestasi dan terkenal yang aku tambahkan sebagai teman atau aku ikuti/follow. Beliau punya profesi mirip peneliti, pengajar, karyawan, penulis dll. Pertanyaannya kemudian adalah, beliau kok sering membagikan informasi (baca: update status) ?
apa pekerjaan di dunia nyata-nya sudah beres atau emang lagi luang? jelaslah kalo ‘kurang kerjaan’ kayaknya tidak.

Di salah satu kesempatan, ‘Tere’, sebut saja begitu, salah satu akun yang saya ikuti mengaku beliau tidak setiap waktu membuka fesbuknya. Beliau mengaku memanfaatkan fitur ‘auto posting’. Waktu sekian-sekian diatur, dengan status tertentunya. Otomatis setelah tiba waktunya, status tertentu itu mengudara.

Nampaknya beliau lebih suka membunuh waktu dengan berada di dunia nyata, berinteraksi dengan masyarakat sosial dunia nyata dari pada sekedar dunia maya.

Pertanyaan selanjutnya untuk para pemfesbuk, berfesbuk karena urusan di dunia nyata sudah selesaikah? berfesbuk karena untuk mengisi waktu luangkah? atau memang waktu luang nya terlalu banyak? hehehe

Aku gak tahu apa emang ada hubungannya jumlah orang pengangguran di Indonesia dengan jumlah orang yang merasa ‘kurang kerjaan’? Beberapa orang bule yang pernah aku jumpai, mengaku tidak terlalu suka fesbuk, dan kalaupun mempunyai fesbuk jumlah temannya relatif sedikit dibanding jumlah teman milik akun fesbuk dari orang Indonesia. Orang bule mungkin terlalu sibuk untuk sekedar bermain-main fesbuk. Boleh jadi mereka menganggap aktivitas berfesbuk sebagai sesuatu yang non-produktif.

Melihat para teman yang asyik mengunggah fotonya sewaktu di danau, sewaktu berkumpul dengan komunitasnya, dan sebagainya. Bukankah lebih indah dan lebih asyik kalo kita ‘log out’ dan cari kerjaan bersama orang-orang di dunia nyata?

Daripada kita hanya menonton foto-video teman-teman kita dari layar komputer atau HP, bisalah kita bersepeda, berenang, mendaki gunung, berkunjung ke sanak saudara, berkumpul dengan teman sehobi, atau bahkan ‘mencari pekerjaan’ yang sesungguhnya.
Bukankah malah lebih mengasyikkan? hehe

Iklan