Syukur, sebuah kata yang sering aku dengar. Bahkan ada lagu wajib/nasional yang judulnya Syukur. Lagu yang kita pelajari sejak SD dulu. Bersyukur untuk Indonesia kita.

Β “Dari yakinku teguh

Hati ikhlasku penuh

Akan karunia-Mu

Tanah air pusaka.

Indonesia merdeka.

Syukur aku sembahkan

KehadiratMu Tuhan”

Bersyukur, merasa cukup dengan apa telah ada, apa yang telah dikaruniakan Tuhan. Tidak merasa kurang, kurang, dan kurang, tapi merasa “beruntung, dengan keadaan yang ada”. Di sisi lain kita juga bermimpi, menarget apa-apa yang ingin kita raih. Jadi bersyukur tidak berarti menerima apa adanya, pasrah.

Bersyukur akan kesehatan diri sendiri dan orang sekitar, kondisi keuangan, keadaan keluarga, harta benda yang ada, dst. Semua orang bisa bersyukur, jadi bersyukurlah di setiap kesempatan. Alhamdulillah masih bisa berinternet, sehingga bisa menemukan dan membaca artikel ini, hehehe πŸ™‚ Semoga bisa mengambil ibroh atau pelajarannya ya!

Gambar

Saat kita mengeluhkan betapa kerasnya cobaan hidup yang kita jalani, saat kita mengeluhkan betapa tidak beruntungnya kita. Sadarlah, lihatlah keadaan sekitar. Lihatlah banyak orang di sekitar kita, yang ternyata banyak yang tidak lebih beruntung dari diri kita. Bandingkan dengan diri kita yang sekarang sehat, sedangkan pengemis di perempatan jalan ternyata cacat kaki, catat tangan, atau cacat fisik lainnya.

Alkhamdulillah, puji Tuhan. Kita masih bisa melihat betapa indahnya alam ini, masih bisa mendengar merdunya gemercik air, kicauan burung; masih bisa merasa betapa nikmatnya nasi dan lauk-pauknya; masih bisa berjalan-jalan dan menghirup udara segar.

Suatu hari aku mengendarai motor menyusuri jalanan kota. Saat itu merasa betapa enaknya teman-temanku yang berada di dalam mobil orang tuanya. Tidak panas saat aku kepanasan, dan tidak kehujanan saat aku kehujanan. Wuih, dunia.. Serasa tidak adil.. Hmm, pembaca pernah merasa seperti itu tidak?

Ternyata dan oh ternyata, aku masih lebih beruntung dari pada orang yang jalan kaki di jalanan. Aku masih lebih beruntung, bepergian lebih cepat dan tidak capek karena kaki yang pegal. Aku bisa beraktivitas lebih banyak, mengunjungi tempat-tempat yang ingin aku tuju, dan tentunya mengoptimalkan waktu.

Lalu, pejalan kaki tadi pasti merasakan juga seperti yang aku rasakan. Coba kalau aku pakai motor mungkin aktivitasku akan lebih lancar. Oh dunia, betapa kejamnya.. Mungkin saja dia berandai-andai, “Seandainya aku punya uang lebih, pasti sudah aku belikan sepeda motor, atau minimal sepeda kayuh. Oh Tuhan, Kabulkanlah.. Dengarkanlah..”

Beberapa saat, si pejalan kaki tadi yang berjalan menyusuri jalanan kota yang panas tiba-tiba terperanga, dan lalu bersyukur.

“Alkhamdulillah aku masih dikaruniai kaki yang sehat dan kuat. Aku masih bisa berjalan berkeliling kota ke tempat tujuanku. Aku masih bisa berlari dan melompat sesuka hatiku.”

Ternyata, ada orang yang tidak lebih beruntung dari pejalan kaki tadi. Orang tersebut mengalami cacat kaki alias pincang, sehingga cara berjalannya tidak seperti orang lain. Mereka yang fisiknya kurang (baca: cacat) dia pasti sangat mendambakan kaki yang bisa digunakan untuk berjalan, berlari-lari, melompat-lompat. Iya, betapa beruntungnya kita!

Di sisi lain, orang yang cacat kaki tadi bersyukur. Ia masih mempunyai rumah yang nyaman. Rumah yang aman dari gangguan panas sinar matahari dan dinginnya malam. Ia masih lebih beruntung dari orang tuna wisma. Mereka tidak mempunyai rumah walau untuk sekedar berteduh, membaringkan fisik yang lelah setelah berjibaku dengan dunia yang fana. Namun tuna wisma tadi masih bersyukur, ia masih diberi kesehatan. Ia masih mempunyai teman-teman di sekitarnya yang senantiasa ada, dalam suka maupun duka. Dan juga merasa beruntungnya ia, karena memiliki kesadaran danΒ  juga kesempatan untuk selalu bersyukur kepada Yang Maha Kuasa.

Bersyukurlah, tanda terima kasih pada Tuhan. Berbagilah, tanda kepedulian pada sesama. Dan bukankah ada hak orang lain di setiap harta kita? Iya, mari belajar bersedekah, belajar berzakat, belajar peduli pada sesama. Tetaplah bersyukur di setiap keadaan.

Lihatlah ke bawah untuk bersyukur, lihatlah ke atas untuk mengejar mimpi (visi), dan lihatlah ke depan untuk menjalani!

Tetap Bersemangat ya! πŸ˜‰

Iklan