Latest Entries »

Pindahan Rumah :)

Saya mau pindah rumah nih, berhubung sudah ada petak tanah di jagad maya yang tak termanfaatkan. Sila bila mau main, ke alamat saya Dani Nugroho. Ada sebidang tanah dari pada terbengkalai, akhirnya saya bangun juga itu tanah.

Yaa rumah baru, tanggung jawab baru. Siap untuk dicorat-coret🙂

Otodidak itu keren!

Dari wikipedia, Otodidak atau autodidak (dari bahasa Yunani autodídaktos = “belajar sendiri”) merupakan orang yang tanpa bantuan guru bisa mendapatkan banyak pengetahuan dan dasar empiris yang besar dalam bidang tertentu. Beberapa puluh bulan yang lalu saya sempat bermimpi bisa membuat aplikasi berbasis android. Tak menyangka kini saya telah berhasil merancang dan menyusun satu program android. Berbekal koneksi internet saya mengumpulkan bahan tutorial untuk membuat aplikasi ini. Karena dasarnya saya suka dunia perkomputeran, prosesnya jadi enjoy aja. Namun kelemahan dari metode otodidak adalah lamanya proses belajar karena tidak ada guru yang membimbing.

Program android satu ini saya rancang dengan penuh latar belakang. Sebelumnya, tahu enggak kata “Pemalang” itu apa?

Nama buah, makanan, kota, jajanan, atau barang begitu?

View full article »

Jaman dahulu kala, hiduplah seorang kakek dan nenek. Mereka membesarkan seekor kuda dari semenjak kuda itu masih kecil. Mencari rumput, mengembala, merawatnya ia lakukan tiap hari. Suatu hari kuda milik satu-satunya itu hilang entah kemana masuk dalam hutan belantara. Di ruang sabana pun tak terlihat.

Dengan keadaan seperti ini, para tetangganya pun berkomentar sinis.

“Betapa malangnya nasib kakek nenek tua itu.”

Sehari dua hari berlalu, tidak ada tanda-tanda keberadaan si kuda. Penduduk sekampung udah mencari  seluruh penjuru desa belum juga ketemu. Nah, ntah mimpi apa di malam ke tujuhnya, tiba-tiba kuda itu kembali ke rumah sang kakek nenek. Dan tak disangka, kuda yang selama ini dirawat dengan baik ternyata kuda “pemimpin” stalion. Kuda itu kembali ke pemiliknya dengan membawa kawanan.

Para tetangga berkomentar. “Betapa beruntungnya kakek nenek itu”.

Memperoleh kuda-kuda liar, pemuda anak semata wayang kakek nenek tadi berusaha menjinakkan kuda-kuda tadi. Sayang, ditengah usahanya dia terjatuh dan mengalami patah tulang di kakinya.

Para tetangga berkomentar. “Betapa malangnya keluarga itu”.

Hari demi hari berganti. Sementara di negara bagian lain terjadi peperangan. Banyak prajurit berguguran. Memaksa pemerintah setempat melakukan rekrutmen prajurit baru. Dan pemuda sehat di seluruh penjuru negara diwajibkan untuk menjadi prajurit perang. Banyak pemuda yang mengeluh menjadi prajurit. Meninggalkan keluarga dan pergi berperang melawan musuh. Pemuda anak sang kakek nenek tidak diperbolehkan menjadi prajurit karena patah kaki.

Para tetangga berkomentar lagi. “Wah betapa beruntung nasib pemuda itu, tidak dipaksa menjadi prajurit”.

Hari-hari terlewati. Pemuda itu hanya di rumah. Tidak ada teman-teman sepermainannya lagi. Sesekali ia bermain dengan kuda-kudanya saja. Warga melihatnya seperti pemuda yang kesepian. Bermain sendiri tanpa teman seumurannya.

Para tetangga juga berkomentar lagi. “Malang sekali anak itu. Sepi sendiri, bermain sendiri”.

Seiring berjalannya waktu, kakinya mulai bisa berjalan normal. Berlari bersendau gurau dengan kuda-kudanya. Dengan gagahnya sang pemuda berkuda keliling desa.

Para tetangga berkomentar yang ke sekian kalinya. “Benar-benar beruntung pemuda ini”.

Ternyata para gadis desa memperebutkan pemuda tadi. Betapa tidak, sekarang tidak ada pemuda yang gagah di desa itu setelah semua pemuda direkrut pemerintah menjadi prajurit dan di bawa ke daerah konflik.

Kehidupan ini berputar seperti roda kehidupan. Kadang di atas, dan kadang pula di bawah. Bersyukur adalah hal yang wajib dirasakan dan dilakukan. Tidak melulu memikirkan apa yang belum didapatkan, melainkan sesekali merasa untung mendapatkan apa yang sudah dimiliki.

Bagi yang sedang merasa menderita atau dalam masalah. Yakinlah badai akan segera berlalu. Bahkan cobalah menikmati. It is not about waiting the storm passed. It is about dancing in the rain. Bagi yang sedang merasa senang, berbahagialah untuk sekedarnya. Toh, apa yang didapatkan juga tidak akan abadi. Jangan-jangan Tuhan sedang menguji kita dengan kesenangan, sementara orang lain diuji dengan kesengsaraan. Berbagi kepada sesama bukanlah tindakan yang salah.

Tetap sehat, tetap semangat!😀

Menuju Dewasa

Berada di awal usia kepala dua adalah saat dimana kita merasa bahwa masa remaja akan segera terenggut oleh waktu. Masa dimana semua hal seakan haram untuk salah. Tanggung jawab, kemandirian, dan visi kehidupan, adalah kata-kata yang sering sejajarkan dengan istilah dewasa.

Kontemplasi

Dikisahkan ada sebuah negara yang sedang dilanda wabah flu. Di dalam pesawat, terlihat banyak orang menggunakan masker. Masker untuk perlindungan diri dari penularan flu orang-orang di sekitarnya.Nampak seorang penumpang melenggang dengan asyiknya dari toilet ke tempat duduknya. Para penumpang lain pun skeptik dengan wisatawan tadi. Betapa bodohnya dia tidak menggunakan masker, pikir para penumpang.

Setelah dia duduk, penumpang sebelahnya pun bertanya.

‘Halo bapak, tidak tahukah Anda dunia sedang mengalami wabah flu?’

‘Saya tahu dengan betul.’

‘Lalu, mengapa Anda tidak menggunakan masker?’

‘Mengapa Saya harus memakai masker, kalau semua penumpang di pesawat ini sudah memakai masker?’

‘Apa hubungannya..?’

‘Semua orang di sini sudah mengisolasi tubuhnya masing-masing. Baik mencegah flu itu keluar dari tubuhnya atau mencegah flu dari orang lain masuk ke tubuh. Kalau semua sudah memakai masker, maka saya tidak perlu memakai masker.’

‘Ooh.. iya.. iya.. hahaha’

Gimana menurut pembaca, cerdik atau konyol?

Akhir pekan ini bertepatan dengan libur 25 Desember. Kami bertujuh belas yang kebetulan sedang mempunyai hajat yang sama di Bogor berencana keluar bersama ke daerah Bandung. Apalagi kalau bukan untuk mengusit kepenatan selama beberapa pekan terakhir. Aktivitas pagi sampai malam berulang tiap hari. Jadilah memanfaatkan libur ini untuk hang out bareng.

09.00 – 10.30: Udiklat – Terminal Baranangsiang

Pagi itu kami berangkat dari tempat diklat di Cibogo Bogor menuju ke terminal Kota, Terminal Baranangsiang. Pukul 09.00 kami meluncurdengan angkot sewaan. Sial saja, saat itu jalan raya puncak sedang diberlakukan sistem buka tutup, atau sistem satu arah menuju ke arah Jakarta atau arah Bandung. Padahal terminal tujuan kami lebih dekat ke arah bawah atau ke arah Jakarta, namun saat itu diberlakukan satu arah ke atas. Ada dua pilihan, mau menunggu sampai dibuka ke arah bawah atau ke atas dengan mencari jalur alternatif. Habislah Rp.20.000 untuk opsi mengikuti arus lalu mencari jalur alternatif.

10.45 – 21.00: Terminal Baranangsiang – Ciwidey

Matahari agak terik sewaktu kami tiba di terminal barangsiang. Bis-bis berhenti di pelataran terminal. Di sudut yang berbeda terdengar derungan mesin bis yang siap digas pedalnya. Salah satu bis menuju terminal lewi panjang siap berangkat, kami bertujuh belas buru-buru masuk ke dalamnya. Tarif dipatok Rp.60.000.

Bis Mogok di Tengah Perjalanan Sepuluh menit, dua puluh menit berlalu. Air Conditioner berjuang melawan panasnya udara luar. Sial, bis mogok di tengah perjalanan, di tengah jalan tol lebih tepatnya. Penumpang berhamburan keluar bis, sambil meneduh di bawah pohon yang saat itu berdiri di samping jalan tol. Waktu terus berjalan, masalah persneling rusak belum juga selesai diperbaiki. Akhirnya kami berganti kendaraan setelah ongkos dikembalikan setengahnya.

Berganti menjadi mobil travel kami meluncur melanjutkan perjalanan langsung menuju ke Ciwidey. Ongkos langsung ke Ciwidey memakan Rp.60.000. Perjalanan menjadi sesak-sesak-an, satu mobil travel untuk sebegitu banyaknya jumlah kami.

21.00-22.00 Negosiasi Penginapan dan nikmati bandrek

Saat itu hari sudah sangat gelap, kami disambut gerimis romantis ala daerah Ciwidey. Sesampai di sana, beberapa urang Ciwidey masih terjaga dari tidur yang sepertinya memang sengaja menunggu wisatawan yang mencari penginapan. Kami langsung menyampaikan mencari View full article »

Resistor Akhir Keluarga

Seakan tak terasa dan berlalu terlalu cepat, akhirnya 6 semester telah terlewati. Apalagi bila melupakan prosesnya: tugas-tugasnya, ujian-ujiannya, praktik-praktiknya. Terasa baru kemarin berselancar di internet, daftar online lalu bayar biaya pendaftaran dan seterusnya, kini kami berhasil wisuda dengan elegan. Semester tiap semester terlalui dengan cukup asyik. Walau pun tiap jalan yang terlewati tidak selamanya mulus, namun justru yang berliku dan berbatulah yang membuat masa lalu menjadi memori tersendiri.

Teringat dulu selepas lulus masa SMA, saya berusaha mendaftar dimana-mana. Mencoba SNMPTN undangan dan tulis, mencoba tes AMG, STTD, Akpol, Akmil dan tentu saja D3K PLN. Dari semua yang dicoba, ternyata ada tiga yang tembus sampai pengumuman akhir. Dan karena merasa lebih ditakdirkan dan karena lain hal, akhirnya alhamdulillah terpilihlah program D3K PLN Polines. Sebuah program pendidikan jenjang ahli madya kerjasama PT PLN dan institusi pendidikan Polines Semarang. Kebetulan hanya ada dua konsentrasi program studi (prodi) yang ditawarkan, yaitu prodi teknik listrik (teknik elektro) dan prodi teknik konversi energi (teknik mesin). Saya melamar pada prodi teknik listriknya, karena lebih tertarik tentang elektro dan juga saran orang tua.

Proses seleksi masuk program D3K PLN tahun 2011 dulu, ada beberapa tahapan. Tahapan yang pertama ada seleksi View full article »

Kabupaten Pemalang, sebuah kabupaten berjarak 100-an kilometer dari ibukota provinsi Jawa Tengah. Kabupaten ini memiliki sejumlah potensi dan sumber daya yang melimpah. Sebut saja kawasan pesisir pantainya, kawasan pegunungannya, sungai, perkebunan, dan wirausaha warganya. Kabupaten yang me-malang (membujur/memanjang, pen) dari pesisir pantai utara Jawa sampai lereng Gunung Slamet ini mempunyai sejumlah wisata air terjun. Salah satu air terjun mini itu, yang hanya segelintir orang yang mengetahui lokasinya, yaitu curug Bengkawah.

Letak Curug Bengkawah. Curug yang satu ini letaknya memang agak tersembunyi dari hingar bingar warga Pemalang. Curug kembar ini terletak di Desa Sikasur, Kecamatan Belik, Kabupaten Pemalang. Jaraknya kurang lebih 30 km atau sekitar 30-45 menit perjalanan dari Pemalang Kota. Dengan menggunakan GPS (Global Positioning System), curug tersembunyi ini bisa dijumpai di koordinat S 7° 7′ 1,575″ dan E 109° 19′ 42,788″.

Perjalanan ke Curug Bengkawah. View full article »

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 1.362 pengikut lainnya